Rahasia Kecil #1
Kaki mungil itu berusaha meyusul langkah ibunya. Samar-samar terdegar senandung lagu dari bibir anak itu. Rambut ekor kudanya berayun seirama langkah mugilnya. Sesekali langkah itu berhenti menyibakkan tangkai daun pepohonan kopi di dekatnya. Di bahu yang mungil itu terlihat tas selempang yang terbuat dari anyaman bambu yang amat unik.
"Emak.... aku capek..haus.." bibir itu berucap hampir setegah berbisik
Sang ibu yg berjalan di depanya berhenti, sambil tersenyum melihat ke belakang, tatapa yang penuh sayang terpancar jelas dari dua bola matanya. Sambil mengelus perutnya yang terlihat sedang hamil besar, Ibu berkata
"Oh...cinta haus." Dibelainnya poni kecil yang menutupi kening buah hatinnya.
"Ya sudah kita duduk di sana ya. Air disana pasti segar." Sang ibu menunjuk ke arah beberapa rumpun bambu di depan mereka dan di sela-sela rumpun bambu itu mengalir mata air yg jernih.
Cinta berlari sambel beteriak "Yeeee...."
Jari-jari mungil itu tanpa rasa takut langsung meraup air yang mengalir dengan bebasnya di batang bambu itu, kucuran air yang terlihat sangat jernih.
"Enakkkk... dingin.....segerrr... Cinta boleh cuci muka, Mak?"
Tidak mendengar jawaban, tubuh mungil itu berbalik,
"Kenapa, Mak?" Kakinya melangkah perlahan ke arah ibunya yang sedang duduk di atas batu di pingiran air yg mengalir. Terlihat ibu itu sangat kelelahan, dengan perut yang besar, ditambah dengan keranjang bawaannya yang cukup besar berisikan kopi yang baru dipetik. Keranjang besar itu terbuat dari anyaman bambu di sana disebut 'Kinjae /Bake' yang dikaitkan di atas kepalannya dengan dialasi kain sebagai penguat agar tak jatuh.
Bake itu diturunkan dan diletakan disisinya "Tidak, Mak mau juga minum. Pasti enak ya." Ibunya berusaha tersenyum meskipun terlihat jelas keringat yg membasahi leher dan wajahnya.
Dengan cekatan, cinta kembali ke mata air, tangan mungil itu membawakan air dalam telapak tangannya untuk emaknya. Ibu tersenyum sambil meminum air dari tangan mungil Cinta. Mata Cinta berbinar bahagia, "Enak 'kan, Mak?" tanya Cinta dengan polos.
"Hmm, enak. Segar.. klo sudah minumnya, kita jalan lagi, yuk. Hari sudah tambah sore." Jawab sang ibu dengan berdiri sembari membenarkan kain yg melilit menutupi perutnya.
Menatap perut ibunya dengan penuh takjub, Cinta bertanya, "Cinta punya adek lagi ya mak?" Tangannya berjalan, mengelus perut ibunya. "Laki apa perempuan mak?" Matanya menatap ibunya yg sudah siap dengan bake di belakangnya.
"Semoga adek yg ini laki-laki karena Cinta kan sudah ada adek perempuan." Jawab ibunya sambil berjalan perlahan.
"Iya...ya.." Cinta mengangguk sendiri sambil tersenyum.
Cinta dan ibunya kembali berjalan, kali ini melewati kebun lada yang mulai berbuh lebat. Semerbak bau dari buah lada begitu terasa, sesekali terdengar kicauan burung yang terbang di antara pepohonan.
Mentari sore memancarkan sinarnya yang keemasan di sela-sela pepohonan. Jalan setapak yang mereka lalui sepi karena hari sudah sore.
Di depan terlihat jalan itu agak menanjak, semalam hujan. Jalanan terlihat licin, ditambah lagi jejak-jejak bekas kerbau yang menarik gerobak kecil.
Si ibu berhenti sejenak. Ia mengambil batang kopi yang tergeletak di pinggiran jalan yang mereka lalui. Sesekali kayu itu ia tekan-tekankan ke tanah, seolah-olah mengukur kekuatan kayu kopi itu bila ia jadikan penopang.
Cinta hanya menatap belakang ibunnya, tak tau pasti apa yang sedang dilakukan sang ibu.
"Cinta..." Ibunya menengok ke belakang.
" Cinta jalan duluan ya, biar emak di belakang. Emak pegangan dengan batang pohon jarak di pinggir jalan biar tidak kepeleset." Si ibu berkata sambil menarik tangn mungil itu.
Cinta hanya mengangukkan kepalannya tanpa bertanya, dengan sigap kaki kecil tak beralas itu melangkah dengan yakin. Tangan kirinya berpegangan dengan batang jarak yang berbaris rapi di pinggir jalan.
Setengah perjalanan telah ia lalui tanpa menengok kebelakang. Tiba tiba ia mendengar suara emaknya.
"Ya Allahhhhh....." Bukan hanya suara, tapi jeritan.
Langkah kaki kecil itu terhenti. Sontak ia melihat ke belakang, matanya terbelalak, mulut mungil itu terkatup rapat tak mampu bersuara. Di belakang, ia melihat ibunya jatuh terduduk di tanah, sebelah tangannya berpegangan dg pohon kecil yg ada di dekatnya. Buah kopi berhamburan hingga bake hanya terisi setengahnya saja.
Kakinya membawa sang anak menuju ibunya.
"Cinta! Cinta disana saja. Tidak apa-apa, emak bisa." Ibunya berusaha berdiri perlahan. Di sudut bibirnya terbersit rasa sakit yang dicoba ia sembunyikan.
Ibu berusaha tegar berdiri tanpa melihat kopi yang berhamburan di belakangnya. Biarlah....biarlah....
pikirnya karna sinar matahari sudah semakin meredup.Mengatkan hati dan langkahnya, sang ibu berdiri tertatih. Kotor semua bajunya berlumran tanah, namun mereka tetap melanjutkan perjalanan.
Perlahan namun pasti rumah-rumah kampung sudah mulai kelihatan. Cinta hanya menatap emaknya,
dahinya penuh keringat, tapi emaknya membalas dengan senyuman.
Cinta diam tertunduk. Entah apa yang ada di dalam benaknya. Tak terdengar celoteh suaranya yang biasanya ramai, Cinta sibuk dengan pikirannya sendiri. Sesekali muncul di pikirannya, keadaan emaknya saat terjatuh. Terkadang langkahnya terhenti menunggu emaknya yang berjalan di belakannya, yang sesekali menjawab sapaan dari warga kampung yang ditemuinnya di perjalanan menuju rumah.
Sampai dirumah, emak tidak banyak bicara. Cinta melihat ibunya tidak bercerita tentang apapun yang ia alami ke anggota keluarga yang lain. Padahal di rumah itu ramai, ada kakek, nenek, bibi dan adik-adik sepupu Cinta.
Begitu diamnya emak, hanya sesekali tersenyum menatap Cinta saat keluarga besar makan bersama,
seolah gadis kecil itu tahu kejadian tadi tak perlu dibicarakan. Saat tidur pun Cinta memeluk erat emaknnya dari belakang karna sang adik ada bersamannya.
Matanya terpejam dengan memeluk erat tubuh emak yang sangat ia cintai. Ia memeluk sang ibu dengan begitu kuat, seolah-olah takut terlepas..... Lama-lama terdengar dengkuran halus dari bibirnya. Ibunya membelai halus kening cinta seraya mulutnya bergerak ..sayup...sayup...terdengar doa sang ibu dikeheningan malam.
Saat semua tertidur dibuai mimpi. Cinta seorang ibu adalah kekuatan yang dasyat yang Allah berikan. Senyum buah hatinya menjadi penghibur hati dari keletihannya. Tidurlah sayang..... setetes air nampak bergulir lembut disudut mata sang ibu.
-E , 29 Juni
Komentar
Posting Komentar